Ada jiwa yang hidup di dalam buku
Ada kisah yang melekat dalam sebuah perjalanan
Ada jiwa yang tetap hidup walau sudah pergi.
Kekosongan pikiran serta jiwa ini terbentuk dan terbuka kembali setelah membaca kisah fiksi sejarah yang penuh pilu bagi tokoh di dalamnya yakni Biru Laut dalam novel Laut Bercerita. Perjalanan Mas Laut -begitulah kami memanggilnya- penuh dengan kekelaman, kekejian dan ketidakpastian untuk bertemu pada satu titik cahaya bersama kawan-kawannya. Mereka yang terus melangkah untuk menegakkan pilar agar negeri yang dipijak berdiri kokoh tanpa ada ketakutan dari rakyatnya ini, pun harus menerima segala macam konsekuensi. Tetapi harus tetap memegang payung untuk keluarga atau sang significant other, melindungi dalam diam walau tak sepenuhnya yakin akan ikut tersentuh pula oleh rintangan yang ada. Kenangan bersama yang terkasih selalu memberikan napas bagi mereka yang diambil secara paksa, dipaksa untuk bicara dan dipaksa bungkam saat hal-hal yang tak berkawan dengan kemanusiaan memberikan goresan tajam pada ciptaan Tuhan. Yang terkasih pun hidup dalam belenggu, menyelam dengan ketidakpastian. Ada yang hilang, ada yang kehilangan. Ada yang tidak bernyawa, pun ada yang tidak.
Melalui buku ini, saya ikut tenggelam dalam tiap sudut pandang yang ada (yang hilang dan kehilangan). Review singkat ini semacam prolog untuk review yang lebih lengkap. Apa ya? Sesaknya masih ada setelah menyelesaikan novel yang satu ini. Begitu indah-nya tiap baris yang ada. Leila S. Chudori merupakan penulis yang jenius. Kekelamannya begitu terasa.
"Matilah engkau mati, maka kau akan lahir berkali-kali"
Judul: Laut Bercerita
Rating: 9.8/10 (bukan kesempurnaan milik Tuhan, tapi ada yang masih bikin ganjel)

0 comments